Pages

Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Friday, December 21, 2018

Menuju Tanakita

Karena anak-anak sudah liburan sementara emaknya masih harus raker, jadi kita tunda dulu liburan keluarga kita ya :p
Sambil menunggu saaatnya kita berseru, 'libur tlah tiba, libur tlah tiba' *Tasya mode on*, marilah kita cerita dulu liburan kita kemarin sore ituuh

Jadi pada suatu masa, datanglah ajakan untuk bergabung menuju Tanakita. Buat yang belum tahu apa itu Tanakita, saya cuplikan sedikit informasi dari websitenya : Arena Berkemah Bintang Lima Tanakita adalah arena berkemah yang terletak di kaki gunung Gede Pangrango, berbatasan langsung dengan  Taman Nasional Gede Pangrango di Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, yang terkenal berhawa sejuk dan segar, dengan kondisi cuaca rata-rata 20°-22° C (hari), 18°-20° C (malam), dan kelembaban 85%. Lokasinya persis berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP). Campsite yang dikelola oleh Rakata Alam Terbuka ini luasnya sekitar 2 hektar, dan berada di ketinggian 1100 meter di atas permukaan laut.

Untuk lebih lengkapnya mangga bisa buka websitenya disini. And if you don't understand Bahasa, the website also provide in English. But although it is located in West Java, sadly they don't provide Sundanese. So if you don't understand both languages and only understand Sundanese, mangga tiasa ngintun email ka abdi bilih bade aya nu ditaroskeun mah. *Euh, siga marketing na wae
Back to topic after ngacapruk,
Jadilah dengan adanya libur pasca school project celebration, kami dengan riang gembira menuju Tanakita. Perjalanan ke Sukabumi akan ditempuh dengan kereta api, tuut tuut tuut..
Perjalanan dimulai dari Stasiun Depok Baru menuju Stasiun Bogor. Lebih enak kalau temen-temen sudah punya kartu kereta atau e-money dan sejenisnya, jadi tinggal tap di gate dan masuk. Kalau belum punya ya harus ngantri beli tiket dulu. Di Depok Baru ini beli tiket masih manual di loket dan dilayani manusia *ya masak kambing*,  maksudnya gak pake vending machine gitu lhoooo. Duh maafkan kekurangmampuan saya menjelaskan.
Kami berangkat sekitar pukul 6-an hampir setengah 7. InsyaAllah keretanya banyak sih, jadi gak perlu kuatir kehabisan. Perjalanan menuju Bogor kurang lebih 30 menitan. Di sana kami sudah janjian sama rombongan untuk berkumpul jam 7, karena kereta menuju Sukabumi dari Bogor berangkat pukul 7.55. Oiya, Stasiun Bogor ini adalah stasiun terakhir kereta berhenti, jadi ya gak terlalu khawatir banget kalo ketiduran :D *Ini penting*
Di dalam kereta Depok-Bogor

Tiba di Stasiun Bogor. Banyak keretaaa
Buka ransum dulu sambil nunggu anggota rombongan
Setelah berkumpul kami menuju Stasiun Bogor Paledang, karena kereta yang akan berangkat ke Sukabumi stasiunnya di sana. Jadi temen-temen kalo naik KRL turun di stasiun Bogor harus pindah stasiun dulu yaaa, walaupun belum bisa pindah ke lain hati gpp, yang penting harus pindah stasiun, karena kalo nggak, ntr gak nyampe-nyampe.
Stasiun Paledang ini gak jauh kok dari Stasiun Bogor, tinggal naik ke jembatan penyebrangan dan ikuti petunjuk insyaAllah nyampe dengan selamat di Stasiun Paledang.

Stasiunnya lebih kecil, tapi fasilitasnya lumayan kok, ada mushola, ada toilet, ada tempat makan buat yang belum sempet sarapan, dan ada rasa yang selalu berwarna *naoh sih
Pastikan membeli tiket kereta ke Sukabumi ini jauh-jauh hari, kalau go show kayaknya kecil kemungkinan bisa dapet, apalagi kalo lagi libur. Kemaren aja pas di sana diumumin kalo tiket hari itu sudah sold out untuk semua jam keberangkatan. Ada 3 jam keberangkatan, jam 7.55, 13.25, dan 18.30. Semua dalam WIB ya, Waktu Indonesia Bercanda, eh Barat deng.
Pas mau naik kereta siapkan kartu identitas, KTP maksudnya, jangan pake kartu remi ya, apalagi kartu gapleh, bisa dicarekan ku petugasna. Saya menyiapkan juga fotokopi KK jaga-jaga bisi petugas ingin melihat NIK anak-anak sesuai atau tidak dengan data pemesanan. Tapi alhamdulillah gak sampe diminta KK sih, cuman KTP saya aja yang dilihat. Mungkin untuk memastikan apakah sudah sesuai tanggal lahirnya cocok untuk profil emak beranak tiga, karena kan wajahnya lebih cocok dengan profil mahasiswa *uhuk, keselek *mahasiswa S2 yang ngambil kelas karyawan maksudnyaaa :p
Kami naik kereta ekonomi, dan cukup nyaman kok. Model kursinya yang hadep-hadepan gitu, Full AC dan ada colokan listrik, plus pemandangan yang memang menandakan kami sedang liburan.
Bobocan di kereta Bogor-Sukabumi

Pemandangan dari dalam kereta
Perjalanan Bogor-Sukabumi ditempuh dalam waktu kurang lebih dua jam. Jika jarak Bogor-Sukabumi adalah 60 Km. Berapakah kecepatan kereta api tersebut? πŸ˜†
Oiya satu hal penting lagi, untuk menuju Tanakita pastikan turun di Stasiun Cisaat ya. Bukan Stasiun Sukabumi, udah kelewatan itu mah. Di Stasiun Cisaat ini kami sudah ditunggu oleh Limosin yang akan membawa kami ke Tanakita. Limosin disini adalah kata lain dari angkot. 
Stasiun Cisaat kala gerimis, seperti hatimuu

Rasanya tinggal selangkah lagi menuju Tanakita yang diimpikan, karena angkot yang siang itu berasa kereta kencana inilah kendaraan terakhir yang mengantarkan kami sampai ke dalam Tanakita, yang katanya arena kemping bintang lima. Gimana gak berdebar-debar tuh ya *lebay
Tapi Allah Maha Pembuat Skenario, rasanya mungkin perjalanan kami kurang greget tanpa drama. Ketika melewati Alun-alun Cisaat, akan nyebrang ke arah samping Polse Cisaat, tiba-tiba, BUUMMM. Ada suara cukup keras yang mengagetkan kami semua.
Bukaaann, bukan bom rakitan, bukan juga suara angin yang terlampau besar, tapi ternyata adalah suara ban gembos sodara-sodara !!!. Subhanallah.. ujian untuk bersabar yaa.
And you know what, itu ban gembos kok ya pas di bagian yang saya dudukinπŸ˜…. Huwapakah ini kode keras utk segera menyukseskan program diet yang selalu mulai besok?
Ya sud akhirnya terpaksa minggir dulu dan kita semua turun. Karena lokasinya juga dekat dengan Masjid Agung Cisaat, seketika itu juga sebagai seorang emak yang berusaha menjadi cekatan, segera menggiring Thoriq untuk ke toilet. Eh maksudnya mengajak πŸ˜‡
Ini salah satu tips bepergian dengan anak kecil ya wahai para emak. Ajaklah ananda ke toilet begitu menemukan toilet, walaupun ananda belum meminta. Karena kalo tiba-tiba udah kebelet dan gak ada toilet, rempong cyiinnn *If you can feel me *tips ini berlaku juga untuk emaknya πŸ˜‰
Thoriq in action
Alhamdulillah ban yang gembos sudah diganti, perjalanan dilanjutkan dan saya tetap duduk di tempat yang tadi sambil berharap ban-nya tidak gembos lagi agar saya tidak merasa bersalah kepada seisi angkot.
Dari samping Polsek Cisaat kita akan melewati pasar yang -ya namanya pasar- lumayan macet. Di tengah siang terik, di kemacetan dalam angkot, dan kelaparan dalam perut, pemandangan yang bisa saya tangkap dengan jelas adalah kios bakso sapi dan kios es kelapa.
Alhamdulillah macetnya gak lama-lama banget, perjalanan selanjutnya lancar jaya, semakin tinggi hawa semakin dingin, terlihat beberapa kebun sayur di kiri kanan. Kondisi jalan juga sangat bagus, ngageleser lah. Mungkin karena baru pertama kali ke sana, perjalanan terasa lama. Mungkin juga karena sudah tak sabar  ingin melihat seperti apa sih Tanakita ini, seperti kamu yang sudah tak sabar menatapnya saat ta'aruf tiba. Ihiiirr
Dan seperti apakah saat memasuki gerbangnya? dilanjut tulisan berikutnya saja ya. Ini tadinya mau cerita hari pertama sampai selesai, tapi kok baru sampai naik angkot aja udah kepanjangan rasanya. Maklum emak-emak doyan cerita. Semoga jika ada yang baca gak bosen ya *PD amat ceuu

* * *

Lanjutannya klik disini ya



 

»»  LANJUUUTT...

Tuesday, November 20, 2018

Ketika Jalan Menuju Roma Terblokir

Karena hari ini ada rencana yang batal, sementara kita sudah rapi jali siap berangkat, ya udah banting setir deh jadinya.
Berhubung berangkat ba'da dhuhur dan belum makan siang, pit stop pertama dipilihlah secara mendadak Ayam Geprek Juara. Terpilih karena tinggal selemparan batu dari rumah (tergantung siapa yang ngelempar juga sih :p). Kalau kata Thoriq bisa juga disebut Ayam Geprek Menang, karena juara itu sama dengan menang. Hmm boleh lah boleh (Jarjit mode on).
Di sana ada poster-poster kalimat lucu




Abis makan sempet keidean ke Setu Babakan, eehh mendadak Umi inget kalo Emas harus punya kemeja putih lengan panjang dan celana panjang hitam, mumpung keluar akhirnya pit stop selanjutnya ke Toko Fortuna.
Mission accomplished! Selanjutnya karena ini perjalanan banting setir, kita cari yang deket-deket aja lah ya. Terpilihlah Taman Kaswarina sebagai pit stop berikutnya. Pas juga anak-anak abis beli bola dari Fortuna.

Masuk Taman Kaswarina serasa memasuki dunia lain jauuuuhhh dari Jakarta *lebay.
Area tamannya cukup luas, ijoo banget. Tanamannya tertata rapi, yang bagian belakang banget memang dibiarkan alami sepertinya, tapi ya tetep indah. Ada area play ground juga, ada tangga-tangga dan halang rintang, sayang ayunannya sudah rusak, tapi anak-anak udah seneeng pisan.

Ada beberapa pohon kersen aka ceri (ceri versi Indonesia :)) buat neduh, karena di area lapangannya hanya ini tempat berteduh. Nun di salah satu bagian pojok ada manusia-manusia yang sedang duduk atau jongkok terdiam dalam sabar, menunggu kailnya bergerak dan menggeliat. Iyaa, ada kolam yang dipake buat mancing.

Menjelang ashar kita keluar, soalnya gak ada mushola (udah nanya tukang yang lagi kerja di sini). Diputuskan sholat Ashr di sekolahnya anak-anak aja. Tinggal selemparan batu doang (lemparnya jangan kenceng-kenceng, bisi kena orang). Eeh Thoriq malah ketemu teman sekelasnya yang lagi sowan ke sekolah juga.
Abis sholat masih main-main di sekolah dan pulang udah jam setengah 5.

Ada rencana yang batal hari ini, tapi hasil benting setir ke beberapa pit stop seru juga.
Seperti kata pepatah, banyak jalan menuju Roma. Tapi kalau jalannya pada di blokir ya udah ke Istanbul aja :D *pepatah jaman now

Oiya ini ada foto-foto Taman Kaswarina yang membuatku lupa kalau ini lagi di Jakarta :p. Mangggaa, wilujeng menikmati






»»  LANJUUUTT...

Wednesday, April 22, 2015

Kumau Jadi Kantong Doraemon-mu, Mama...

Buka-buka file lama nemu satu puisi yang dibuat lebih dua tahun lalu.
Puisinya belum berjudul sih, bingung mau dikasih judul apa :p
Karena puisi ini ditujukan untuk mama tercinta, yowis judulnya simple aja, Puisi Untuk Mama..., tapi lucu juga kalo dijudulin "Kumau Jadi Kantong Doraemon-mu, Mama...", hehe, tak jadiin judul postingannya aja deh :)

Dan, rasa hati kala membuat puisi itu dan sekarang masih sama...

 * * *

Puisi Untuk Mama

Mama..
Betapa ingin aku menjadi kantong Doraemonmu
Yang keluarkan semua kebutuhanmu
Walau bukan itu yang kau harap selalu

Mama..
Hendak hati belikanmu semua isi dunia
bukan sekedar beli duren di tepi jalan raya
yang kita makan bersama dalam suka cinta
Meski itu tak kau pinta

Mama..
Seandainya senyum dan bahagia ada di supermarket
Akan kuborong berpaket-paket
Dan kuantar kehadapanmu walau jalanan macet

Mama..
Aku bangga,
Aku bahagia,
Aku diberkahiNya,
karena terlahir dari rahim dan didikan cintamu

Mama..
Perjalananku menjadi ibu,
hakikatnya adalah merasai kristalisasi cintamu

Mama..
I love you... always...

Depok, 22/12/2012

Wanna make you happy here, and thereafter
»»  LANJUUUTT...

Saturday, February 15, 2014

Wanted : Rumah Tangga Surga -Bagian 2

Sakinah Wannabe :)
Masih kultwit dari @ajobendri, lanjutan dari bagian 1
Mewujudkan rumah tangga surga dengan mencontoh perilaku penghuni surga yang dikabarkan dalam Al Qur'an.

Sukaa sama gaya bahasanya yang sarat ilmu dan jenaka :)
--------------------------------------------------------------------------------------

1. Kita semua ingin rumah tangga layaknya surga agar penghuninya betah di dalamnya

2. Dan ketahuilah, ciri utama penduduk surga di antaranya bicara yg lembut. Tidak suka teriak atau membentak

3. Kebiasaan berteriak justru merupakan ciri penduduk neraka (qs 35:37)

4. Maka jika ada suara teriakan di dalam rumah itu artinya suasana surga sudah berganti suasana neraka. Bahaya!

5. Sebab, kebiasaan teriak atau bicara melebihi desibel suara normal akan mengeringkan cinta

6. Sejatinya, cinta adalah kelembutan. Dan tidaklah sesuatu disertai kelembutan kecuali akan memperhiasnya (Hadits)

7. Itulah kenapa bukti cinta kpd Allah diminta kita tuk berdzikir dgn suara yg lembut, tidak berteriak di hadapanNya (QS 7:205)

8. Dan kebiasaan berteriak di dalam rumah tangga sejatinya akan mengurangi rasa cinta

9. Sulit kita lihat sepasang kekasih yg dimabuk cinta berbicara sambil teriak2. Kebalikannya, mereka malah suka bisik-bisik

10. Pelan. Tapi nge-jlebb ke hati. Sebab meski tanpa suara, hati berteriak memproklamirkan cinta #yiiihaa :D

11. Penting bagi setiap keluarga yg merindukan suasana surga agar mengurangi teriakan di dalam rumah, terlebih untuk anak2 kita

12. Kebiasaan berteriak atau membentak di depan anak disinyalir oleh para ahli akan mengaktifkan batang otak anak

13. Batang otak itu yg disebut otak reptil atau otak refleks. Anak cenderung merespon masalah tanpa berpikir

14. Diledek teman refleks memukul. Ini tersebab batang otaknya lebih dominan daripada korteksnya yg ajak dia tuk berpikir konsekuensi

15. Anak yg batang otaknya menebal cenderung merespon sesuatu dgn prinsip 'flight or fight'

16. Solusi jarang keluar dari anak dgn model begini. Yang ada adalah puaskan emosi

17. Maka anak-anak yg gampang marah, tawuran dan sebagainya bisa dibilang karena batang otaknya cenderung lebih dominan

18. Dan kalau ditelusuri penyebab awalnya yakni kebiasaan dibentak atau diteriaki dari kecil baik oleh ortu atau guru

19. Dampak berikutnya dari kebiasaan berteriak di hadapan anak adalah menghancurkan sel otaknya

20. Satu kali teriakan kepada anak di bawah usia 5thn akan menghancurkan 10ribu sel otaknya setiap teriakan

21. So, hitung deh udah berapa kali bentak anak. Kalikan 10rb. Maka itulah dosa kita yg buat anak kita gak pintar-pintar

22. Dan berteriak ini belum tentu membentak. Bisa jadi sekedar bercanda untuk menyemangati. Ini tetap bahaya dan terlarang

23. Kalau mau teriak di lapangan aja dimana jarak ke anak kira2 seratus meter :D

24. Kembali kpd inti rumah tangga surga. Yakni kebiasaan bicara lembut. Bahkan bisik-bisik di telinga anak tumbuhkan cinta dan rasa percaya

25. Tentu kelembutan ini bukan berarti abaikan ketegasan. Tegas itu tetap harus ada agar jaga anak dari penyimpangan
»»  LANJUUUTT...

Wanted : Rumah Tangga Surga -Bagian 1

Sudah lama ingin posting kultwit dari @ajobendri (Bendri Jaisyurrahman) tentang rumah tangga surga. Menarik banget soalnya blio memaparkan konsep rumah tangga surga itu dengan melakukan pendekatan suasana dan kebiasaan penghuni surga yang dikabarkan dalam AL Qur'an.
InsyaAllah bisa ya untuk mewujudkan surga di duni, tinggal contek perilaku penghuni surga di akirat.
Pan kata Rasulullah SAW juga, Baiti Jannati, Rumahku Surgaku.

Jika ada sura di dunia, maka itu adalah keluarga yang sakinah
Udah ah prolognya, sok mangga baca kultwit dari ustadz Bendri
----------------------------------------------------------------------------

1. Salah satu konsep dasar sebelum kita berumah tangga adalah memahami konsep rumah tangga surga atau baiti janati

2. Bagaimana mewujudkannya? Maka kita harus tahu bagaimana aktivitas penghuni surga dalam Al quran

3. Setelah seseorang masuk surga, mereka melakukan aktivitas yg menunjukkan betapa surga tempat yg menyenangkan

4. Dengan mengetahui aktivitas penghuni surga, maka kita bisa wujudkan hal yg serupa atau semisal dlm rumah tangga kita

5. Salah satu aktivitas penghuni surga ada dlm surat ash shaffat ayat 50 'mereka suka duduk berhadap-hadapan dan saling ngobrol'

6. Hal ini juga ada dlm surat al hijr ayat 47 'mereka merasa akrab dan duduk di atas dipan2 sambil ngobrol'

7. Maka ciri rumah tangga surga adalah adanya kesempatan duduk berhadap-hadapan dgn pasangan untuk ngobrol

8. Hal inilah yg menimbulkan keakraban dan rasa saling memahami. Dan dendam atau amarah bertahun tahun tak disimpan dlm hati

9. Itulah kenapa ciri penduduk surga di surat al hijr ayat 47 adalah tak ada dendam

10. Dlm konsep rumah tangga surga, tak ada dendam disebabkan kebiasaan untuk menyelesaikan masalah segera, tak disimpan dlm diri trlalu lama

11. Fenomena istri yg memukul anaknya krn kesempatan untuk bicara dgn pasangan dan orang terdekat yg tak tersalurkan

12. Hasilnya, energi marah disimpan dan diekspresikan secara tdk sadar dlm bahasa tubuh yg membuat anak tak nyaman bersama dgnnya

13. Lebih bahaya lagi, ketika marah ini dipendam lama, akibatnya ibarat ombak yg menggulung krn tak lama disalurkan. Merusak!

14. Itulah kenapa suami yg baik adalah yg memberi kesempatan istrinya utk ngobrol lama setiap malam

15. Sebab, kebutuhan wanita utk bicara amatlah tinggi. Bahkan disebutkan perempuan yg sehat jiwanya minimal mengeluarkan 7000 kata per hari

16. Jika tak terpenuhi, maka tertumpahkan kepada anak dgn sikap yg tak nyaman

17. So, bangun rmh tangga surga dgn memberi kesempatan pasangan setiap malam tuk bicara. Sebagaimana kebiasaan rasul kpd aisyah (HR.Bukhari)

18. Dan utk menandai emosi istri yg menyimpan marah, itu mudah. Lihat bahasa tubuhnya

18. Jika tidur sudah berbalas punggung, mata tak berani menatap mesra pasangan, tanda ada HATI YANG TERLUKA

19. So, suami pandanglah mata istrimu dan temukan adakah luka dalam jiwanya

20. Obatnya adalah bicara dan mendengarkan

21.Bagaimana jika para istri memiliki suami yg cuek? Tak mau diajak bicara? Maka, carilah media penyaluran emosi yg tepat dan benar

22. Curhatlah kpd orang yg tepat. Selain tentunya kpd Allah SWT

23. Jika tak biasa bicara, maka menulislah. Sebab menurut imam nawawi menulis itu mampu menetralisir emosi negatif yg dipendam lama

24. Kebiasaan menulus diary atau blog dan sejenisnta bagian dari teknik penyaluran emosi yg tepat. Tidak dipendam lama

25. Maka, sungguh amat sengsara bagi wanita yg punya suami cuek namun tak punya kemampuan menulis. Penderitaan jiwa makin menggelora

26. Itulah knp pendidikan dasar bagi anak wanita adalah menulis. Utk apa? Utk selamatkan jiwanya di saat tak ada orang lain lagi yg dpercaya

27. Kesimpulannya. Jika stress menjalani rumah tangga, maka menulislah. Ini bagian dari solusi sementara.

28. Akan lebih indah, jika di tengah kesibukan selalu ada waktu utk bicara layaknya penduduk surga. Mari memulainya

------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Seru ya :) Jadi keliatan hubungan antara menulis atau ngeblog dengan ketentraman keluarga :D

Lanjut bagian dua yaa
»»  LANJUUUTT...

Monday, February 25, 2013

Inspirasi Syukur Gara-gara iPad

Hari kemarin dapat inspirasi gara-gara iPad. Bukan iPad sendiri lho ya, iPad orang laen :) Trus gimana ceritanya bisa jadi inspirasi? Jadi begini.......

iPad itu adalah milik adik saya, kebutulan kami tinggal tidak terlalu jauh, yah, masih satu kelurahan lah. jadi kalau sedang berkunjung ke rumahm atau saya yang ke rumahnya, anak-anak, Fatih dan Refah, biasanya minta main game di iPad Om-nya. Maklum, emak bapaknya gak (belum?) punya :D . Terutama Fatih sih sebenarnya.
Tapi ya gitu, kalo pas om-nya pulang dan sebenarnya masih pengen maen jadinya ngambek -__-
Nah, suatu hari giliran kita yang berkunjung. Dan seperti biasa minta main game di iPad.Yo wis, monggoooo..
Pas mau pulang seperti biasa pula gak mau, karena masih pengen main. Dibujuk-bujuk akhirnya mau tapi teuteuuup masih sambil ambek-ambekan. Cemberut, jalan sambil nendang-nendang, dan rada ngomel.
Karena dalam suasana emosi, pas mau naik motor bentrok lagi sama adiknya, Refah, rebutan posisi tempat duduk. Padahal sudah disepakti di awal masalah posisi tempat duduk ini.
Dari sekedar perang mulut akhirnya mulai main fisik, Umi langsung bertindak memisahkan dan memberi ultimatum. Saat masih terus panas, akhirnya keluarlah ulimatum berat : GAK BOLEH MAIN iPAD SELAMA SEPEKAN.
Untuk menentukan konsekuensi biasanya saya memberitahukan konsekuensi yang akan diperoleh ketika melakukan atau tidak melakukan sesuatu, tapi saat itu saya memberikan konsekuensi dadakan.

Selama perjalanan pulang ke rumah saya merenung. Mengapa saya memberikan konsekuensi dadakan itu kepada Fatih, lalu saya jawab karena Fatih tidak mensyukuri bahwa dia sudah diberi kesempatan main iPad. Ok, masalah bersyukur seperti ini mungkin belum sampai untuk anak seusia Fatih (6 tahun).
Tapi seandainya Fatih tidak marah-marah, lalu mengucapkan terimakasih atas kesempatan main iPad, pasti kita akan senang dan akan memberinya kesempatan bermain di lain waktu.
Well, saya maklum karena Fatih masih anak-anak, oleh karenya saya ingin memberikan pemahaman tentang kesyukuran. Sampai di rumah pun saya ajak dialog dan alhamdulillah kelihatannya dia mengerti dan menerimanya. Akhirnya minta dibacain cerita saja :)

Hari itu saya benar-benar belajar tentang rasa syukur, mungkin kita sering, diberikan suatu nikmat oleh Allah, lalu kita merasa nikmat itu kurang, lalu kita mengeluh, lalu kita minta lebih lagi. Nah, bagaimana menurut Anda? Apakah akan ditambah? lihat pengalaman saya tadi sebagai analogi.
Tapi sebaliknya ketika nikmat itu walaupun kecil kita syukuri, kita haturkan terimakasih tak berhingga, walaupun tak diminta, akankah ditambah?

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya ...

'Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih' -QS brahim ayat 7-


Note :
Dialog saya dan Fatih saat refleksi peristiwa ini

Umi : "Mas Fatih, kalau Mas Fatih ngasih Umi permen satu, trus Umi ga bilang terimakasih Mas Fatih seneng ngga?"
Fatih : "Ngga"
Umi : "Trus abis gitu Umi marah-marah minta permennya ditambah jadi dua atau tiga, kira-kira gimana?"
Fatih : diemm,manyuun.."ngga dikasih.."
Umi : "Nah begitu juga bla..bla..bla.."
Fatih : "Ya udah cerita buku aja sekarang" (daripada dengerin uminya ceramah mulu :p )









»»  LANJUUUTT...

Monday, July 2, 2012

Buah Hati..

Karenamu, duniaku bermentari
Denganmu, aku meniti pelangi
Menatapmu, siangku berembun pagi
Memelukmu, adalah nikmat surgawi
Mengecupmu, laksana dirubung melati


Ya Allah.. mampukan aku menjadi Bunda sejati..

»»  LANJUUUTT...

Wednesday, December 10, 2008

Aku Tidak Percaya Surga Ada di Telapak Kaki Ibu

Hari ini hari ke-3 Refah demam. Kalau sampai hari ini tidak turun juga besok harus di bawa ke dokter. Syukurlah sore tadi sudah reda demamnya. Pagi tadi suhunya masih 38 derajat C.

Agak khawatir juga, soalnya minggu sore mulai demam, baru senin malemnya di kasih obat, turun bentar suhunya naik lagi.
Senin pagi sampai siang malah gak turun-turun suhunya, padahal pagi dah di kasih panadol sirup. Hiks.
Siang dikasih obat lagi, turun bentar naik lagi. Duhh. Biasanya Refah demam gak lama. Paling sehari doang. Dan bisa turun tanpa bantuan obat.

Kata Abi, "mo tumbuh gigi kali". Tapi kok lama ya..
Nah dalam masa demam itu so pasti rada rewel, nangiiiis, gendooong, males makan dll dsb.
Ditambah Fatih yang super aktif malah jailin adeknya. Duh duh.
Refah masih rewel, eh Fatih BAB n gak mau dibersiin kecuali ma Ummi.
Refah pengen mimik sambil tidur, eh Fatih malah guling-guling deket Refah n nendang-nendang. Refah tereak, "Oooooeeeeeee..."

Pppffhhh..
kadang kesel n mau meledak (kompor kaleee). Tapi cuma bisa gigit2 bibir n ngomel2 dalam hati. Fatih kan belon ngerti, dan Refah malah kesian, dia juga sakit.

Jadi terasa banget kalo jadi ibu itu harus sabaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar. Pan kata Qur'an surat Az Zumar ayat 10 juga pahala sabar tuh tanpa batas.
Masa pahalanya pengen tanpa batas tapi sabarnya dibatesin. Licik dong ah !

Cuman emang gak gampang ya (seenggaknya buat aku). Padahal temenku yang anaknya dah pada sekolah pernah bilang, "apalagi kalo dah bisa ngebantah".
Hiks, semoga Alloh menjadikanku orang-orang yang sabar.

So, jadi saluuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut sama para ibu yang telah berhasil membesarkan anak-anaknya dengan penuh kesabaran. Ga da papanya deh dibanding aku yang baru 23 bulan jadi ibu.
Terutama buat mama yang udah sabar menjadi mamaku dan adik-adikku. Asli aku kagum ama kesabaran beliau.
Mama tidak pernah membentak, mencubit, memukul.
Aku kadang kalo lagi kesel bgt aku cubit bajunya fatih, ato diapersnya. Pelampiasan kali ya.
Aku selalu dipesenin mama, "jangan mulai mencubit pada anak, nanti ketagihan"

Aku punya adek yang rewel kalo sakit, bahkan sampe gede. Pengen ditemenin terus, pengen dimasakin ini itu.

Sampe sekarang aku gak punya kenangan jelek tentang mamaku. Yang ada aku inget pernah bikin mama nangis (maaf ya ma...)

Jadi sekarang aku benar-benar introspeksi diri dan mengukur seberapa besar hati dan kesabaranku. Lewat anak-anakku, aku bisa melihat seberapa layak aku disebut ibu yang penyabar (dan ternyata masih jauuuuuuuh)
Lewat mereka pula, aku bisa melihat bagaimana repotnya mama mengurus aku dan adik-adikku.
Betapa aku semakin cinta sama anak-anak, mamaku dan mamanya suamiku.

Jadinya juga aku gak percaya kalau surga itu ada di telapak kaki ibu.
Karena aku percaya kalo surga ada di setiap senti tubuhnya.

Mama, I luv u...
»»  LANJUUUTT...