Saturday, February 14, 2009

I Luv U n I Miz U, Ustadz !

Whuaaaa, alhamdulillah, akhirnya...
Jadi juga ikut kajian sabtu pagi di masjid Nurussalam. Abis dari dulu gak pernah kesampean. Apalagi masih jaman dimulainya jam 7 (sekarang mulai jam 7.30).
- Pagi-pagi masih sibuk dirumahlah
- anak-anak malem begadang ampe paginya ikutan teparlah
- Udah niat berangkat eh tiba-tiba ada agenda lain lah
- males lah (lho ?! Dasar !!!)
Padahal dah kangen berat sama ustadz yang ngisi kajian : Ustadz Hilman Rosyad, Lc !

Hehe, segitunya ya? Bukan semata faktor ustadznya sih. Garing aja dalam sepekan gak ada majelis kajian ilmu syar'i. Ini ada yang deket kok gak dimanfaatin, ustadz Hilman lagi :)
Penasaran kaaann, siapa sih ustadz Hilman?
Kalo orang Bandung mah pernah denger kali ya nama ustadz ini. Kenapa saya mengangeni beliau? Toh setiap ustadz insyaAlloh punya keutamaan masing-masing.
Saya ceritakan ya... (Ayo ambil posisi, siapin bantal, bisi ceritanya kepanjangan :D)

Ustadz Hilman adalah salah satu ustadz yang sering mengisi acara-acara baik kajian, training, dauroh dsj jaman saya kuliah dulu. Terus terang menghadiri majelis yang dibimbing oleh beliau mengingatkan kembali saya pada masa-masa itu. Masa ketika semangat rasanya selalu hadir setiap hari (emang sekarang ngga ya? Oh no!), masa dimana segala idealisme adalah hal yang tampak hitam putih tanpa abu-abu, masa penuh gairah tanpa kepentingan.
Hadir di hadapan beliau mengingatkan kembali saya, pada komitmen-komitmen yang prosesnya terbangun dengan sadar pada masa itu. Dengan segala hiruk-pikuk hari ini, saya serasa diajak untuk flashback, bahwa apa yang saya mulai di masa itu, harus terus dijalankan, diperjuangkan dan wajib diselesaikan, walaupun garis finishnya adalah liang lahat.

Saya sungguh malu. Melihat diri hari ini begitu berdebu, layu, kuyu dan sayu.
mengikuti kajian ustadz yang dulu juga kajiannya saya ikuti saat kuliah, menyentakkan diri ini bahwa saya adalah seorang Siska yang penuh semangat, cita-cita, gerak dan karya. Mahasiswa atau ibu rumah tangga sama saja, hanya wadah yang berbeda.
Alhamdulillah menghadiri kajian yang beliau bawakan, selain menambah ilmu, juga menambah 'darah baru' untuk saya, karena ikatan historis tadi.

Sebenarnya ada satu ustadz yang dibenak saya lebih identik dengan ustadz kampus. Soalnya beliau seriiiiiing banget ngisi di kampus. Bahkan selama hampir setahunan (lebih mungkin) beliau rutin mengisi kajian Jum'at pagi di kampus. Juga mengisi majelis ta'lim ibu-ibu (di masjid kampus ada MT ibu-ibunya juga lhoooo). Favorit mahasiswa n ibu-ibu deh. Beliau adalah ustadz Darlis Fajar, SS (udah nambah belum gelarnya stadz?:))
Tapi belakangan dengan kesibukan beliau berda'wah di dunia bergetah (baca : parlemen) mulai jarang ngisi di kampus. Lagipula, harus ada regenerasi juga kan?

Ada juga ustadz Ahmad Chumaedi (deket nih rumahnya dari kampus), ustadz Abu Syauqi, ustadz Budi Hatho'at, dan yang lainnya.
Favorit saya waktu itu adalah ustadz Nashirul Haq. Karena beliau itu lugas dan tegas jika mengisi kajian, tidak terlalu banyak heureuy (baca : becanda) pokokna saya suka lah gayanya. Kalau ada rapat-rapat pengurus/panitia membahas usulan nama ustadz, saya sering mengusulkan nama beliau.
Tapi justru beliau jarang ngisi di kampus, apalagi untuk forum umum. Mungkin karena kelugasannya ya. Eh, atau mungkin rumahnya relatif lebih jauh (Geger Kalong) ke kampus (Dayeuh Kolot). Pizz ah ustadz.

Mereka adalah para guru, ustadz yang berperan dalam masa-masa pembentukan saya. Saya sangat sangat mencintai beliau-beliau itu. Melihat mereka berkarya dan berda'wah tanpa kenal lelah, bahkan semakin berdaya dan membahana, saya sebagai 'murid' (aduh, punten ya ustadz ngaku-ngaku) merasa malu malu malu :(

Semoga tulisan ini senantiasa menjadi peringatan ketika lalai.
Wa bil khusus kepada para asatidz, I miz u all, luv u coz of Alloh !

Depok, 14 Februari 2009

Tuesday, January 27, 2009

Ngomongin Racun Ah..

Pasti dong pernah termehek-mehek di bis atau angkot ama asap rokok.
Gak enak banget ya.
Kalo kubilang mending bau ketek daripada bau asep rokok. Asal keteknya dah disemprot deodorant ^o^V
Nah, Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa haram merokok.
Tapiiii, hanya untuk case tertentu saja, rokok diharamkan untuk :
1. Anak-anak dan remaja
2. Ibu hamil
3. di tempat umum

Aku jadi penasaran dengan haram merokok untuk anak-anak. Apakah ada dalam Al Qur'an atau Hadits (bukan ijtihad ulama) yang mengharamkan sesuatu khusus untuk anak-anak?
Kalo ada, apa ya? Padahal yang kutahu anak-anak itu belum dihisab.
Eits, bukan berarti aku menghalalkan rokok untuk anak-anak, gila aja, tapi ngerasa rancu aja. Anak-anak belum dicatat dosanya kok dikasih fatwa.
Udah ah bukan itu yang mau dibahas.

Sebenarnya perlu gak seh mengharamkan rokok? Segitunya kah?

* * *

Secara kesehatan, rokok jelas sungguh amat sangat berbahaya. Pernah melihat gambar bagian-bagian rokok yang komponennya racun semua ? Suerem dueh.
Racun-racun itu so pasti akan bekerja dengan baik dalam tubuh, berhari-hari, berminggu-minggu, bertahun-tahun, dan hasilnya...
Another art of death (art? bukan ah)
Bahkan kecanduan rokok merupakan kerja dari si racun tadi

Sodara-sodara, jika saya menenggak satu botol Baygon dalam sekali tegukan, bagaimana hukumnya? Atau gak usah bicara hukum deh, bagaimana pendapat anda ?
Konyol? Nekat? Sinting?
Well, yang jelas saya sedang meluncur ke arah k.e.m.a.t.i.a.n.

Itu namanya bunuh diri, dan menurut agama yang saya anut, Islam, itu haram.

Lalu, bagaimana jika saya meminum Baygon atau racun lain itu tidak sekaligus.
Pagi hari satu sendok
Siang dua sendok
Malam satu sendok lagi
Atau malah tiga sendok
Besoknya begitu lagi
Lusa juga
Besoknya lusa nambah dosis
Pokoknya rutin
Seminggu
Sebulan
Setahun
Dan bertahun-tahun setelahnya

Sampai akhirnya...
Hasil yang didapat sama dengan hasil saya menenggak sebotol racun itu.
Kerusakan paru-paru
Kerusakan jantung
Dan kerusakan-kerusakan lainnya
(Termasuk kerusakan kantong :D, eh maap lagi serius)
Hingga berujung pada k.e.m.a.t.i.a.n.

Apakah itu namanya bunuh diri?
Apa juga haram?
Biarkan hati nurani menjawabnya
(Eh, udah dibantuin ngejawab tuh sama MUI :))

-Analogi ini diambil dari khutbah jum'at Aa Gym di sebuah masjid perkantoran (saya dapat cerita dari suami)-

Thursday, January 22, 2009

Obama itu Fana

Pernah merasa kecewa? Ato malah sering? Kenapa kita kecewa?
Timbulnya kekecewaan biasanya diawali dengan hadirnya harapan. Entah yang memang terpupuk (klo dipupuk pake yang organik aja ya, halah, teu nyambung) ato yang timbul dengan sendirinya.
Berharap ini lah, berharap itu lah, begini begitu dst
Pokoknya berharap segala harapan terwujud.

Namun apa daya, karena kita manusia yang tak punya keMaha-kuasaan, harapan tadi tak selamanya jadi nyata. Saat kenyataan tak seindah harapan, munculah yang dinamakan kecebong, eh bukan, k-e-c-e-w-a.

Seperti yang kualami tadi malam. Berharap bisa mencuri perhatian suami, tapi suami lebih memilih perhatiannya dicuri blackberry. Padahal sudah dandan extra (ehm), teteuup blekberi yang diutak-atik, gak tau balesin e-mail, apa ym-an, apa fesbukan (sekedar info, suamiku suka bela-belain ngapdet status fesbuk padahal lagi nyetir).
Tadinya sih betesuretekaberetejete.
Tapi... Ya sudahlah. Salah sendiri juga suka ngarep. Mungkin memang akunya yang harus introspeksi, jangan berharap muluk (harus ada standarisasi muluk nih).

Seperti dunia saat ini, yang sedang gegap gempita dan terbuai harapan pada 'Change We Can Believe In', pada sosok manusia fana bernama Mr. Barrack Hussein Obama.
Indonesia apalagi, karena Obama pernah tinggal di Indonesia, jadi GR, jadi ngerasa bakal ada sesuatu yang istimewa buat Indonesia.
Yang lucu, sebuah kota di Jepang bernama Obama juga ikut-ikutan GR.
Kemudian karena ada latar belakang muslim, dunia Islam berharap ada perbaikan hubungan antara USA dan dunia Islam.
Karena presiden USA pertama yang berkulit hitam (secara fisik item, secara genetik 50% aja) diharapkan masalah-masalah rasial selesai.
Dan mungkin beragam harap lainnya.
Mungkinkah harapan itu akan menjadi nyata? Atau malah menimbulkan kekecewaan lain yang lebih perih?
Ingat ! Obama sebagai presiden USA bukan seorang individu, ia adalah representasi dari pemerintahannya.

Pada pidato inaugurasinya, sudah banyak yang merasa kecewa. Obama sebagai presiden USA terpilih, yang katanya polisi dunia, yang katanya dewa-nya HAM dan pejuang demokrasi, tidak sedikitpun menyinggung tragedi kemanusiaan bangsa Palestina di jalur Gaza. Kenapa kecewa ? Bukankah kita tahu USA sekutu (atau malah kacung) Israel. Apakah seorang Obama membuatnya menjadi berbeda? Aku rasa tidak.

Aku pribadi tidak pernah berharap banyak pada USA, gak bisa diharepin lah, dah ketauan belangnya (panuan kaleeee). Sebodo dia mantan anak Menteng, kalo Si Doel yang jadi laen cerita (ceritanya jadi : mengkhayal).

Mungkin aku terlalu skeptis ? Terserah lah, toh sikap ini lahir dari pengalaman dan kenyataan yang ada.
Tapi bukan berarti aku tidak mengambil hikmah dari Mr. Obama ini, bukankah selalu ada hikmah dalam setiap episode hidup ?
Perjuangannya Obama menembus gedung putih adalah perjuangan dan pergumulan panjang bangsa Amerika mengatasi rasialisme. Aku belajar dari situ.
Belajar tentang kemustahilan yang terus ditentang.
Belajar tentang perjuangan
Tentang pengorbanan
Tentang kerja keras
Tentang kualitas manusia
Belajar bahwa mustahil akan tetap mustahil sampai kita menyangkalnya
Walau sampai berdarah-darah
Bahkan meregang nyawa.

Seorang penjahit bernama Rosa Parks, mungkin tidak pernah menduga, saat tahun 1955 ia dilarang duduk di bus kota pada area khusus kulit putih yang berujung penangkapan dirinya, tahun 2009 ini seorang keturunan Kenya duduk di gedung putih sebagai orang nomor 1 USA.

Kalau kukatakan USA tidak diharapkan, untuk sekarang ya. Selama masih menerapkan standar ganda, USA adalah serigala berbulu domba. Entah butuh berapa ratus tahun untuk melihat USA ber-evolusi menjadi domba.
Mustahil? Hanya Tuhan yang tahu

Jadi wahai seluruh dunia, silahkan siapkan diri anda menerima kenyataan, kita lihat relevansi harapan-harapan tadi dengan kenyataan di depan.
Jika kenyataan sesuai harapan, berbahagialah.
Jika didapati harapan tinggal kenangan, jangan salahkan Obama, mungkin anda keliru menaruhnya pada sesuatu yang fana.

Depok, 220109
Saat headline koran melulu Obama

Sunday, January 4, 2009

Nafas Abadi

Aku tak bisa bernafas
Dalam porak poranda,
Dalam genang air mata,
Dalam gelontoran darah semerah saga,
Karena setiap yang kuhirup adalah duka,
Adalah luka bernanah nganga,
Adalah nestapa di atas gulita

Namun mereka disana
Tetap bernafas
Pernafasan abadi
Tak kenal mati
Karena setiap yang mereka hirup adalah surga


Dedicated to The Gaza people n syuhada

Monday, December 29, 2008

Satu Episode Liburan

Libur panjang neh, hehe. Si Abi deng yang libur, Umi mah teteeeuup berdinas.
Ya iyalah, seorang ibu rumah tangga gitu loch. Jam kerja 24/7/365 :)
Nah, mentang-mentang libur jalan-jalan mulu deh.
Heee..
Sebenarnya 'cuman' jalan-jalan ke UI sih. Tapi lumayan banget, piknik murah meriah. Pan di UI juga ada danau, ada padang rumput (padang?), pohon-pohon, hutan, seger lah pokona mah.

Gak cuman kita looh yang demen maen ke UI, dua hari ini ke UI mulu dan rame terus. Terutama di daerah sekitar danau.
Ada beberapa kelompok orang, ada yang berduaan cowok cewek dempet2an (duh), ada keluarga yang bawa anaknya, ada yang mancing, ada juga pedagang.
Hhmm..
Dekat, gratis, view n suasana asyik emang daya tarik tersendiri.

Tapiiiiiii..
Satu hal yang sangat menggangu : sampah !
Oke lah kalo sampah daun dan ranting yang belum sempat disapu.
Ini sih ada bekas bungkus gorengan, aneka ragam sampah plastik, tukang soto mie buang jeruk limo yang sudah diperas, ppffuih

Kenapa ya kita begitu mudah membuang sampah sembarangan. Apa tidak sepet mata melihatnya bertebaran begitu ?
Ngga usah deh bicara masalah plastik yang sulit terurai dulu, atau sampah yang menyumbat dan menyebabkan banjir. Mungkin gak terasa seketika.
Bicara soal enak diliat apa ngga dulu aja deh.
Apa nyaman-nyaman aja melihat sampah yang kotor di tempat yang indah gitu?
Huaaaaa, jadi bete !

Padahal kita tuh dah gratis ga bayar apa-apa kalo maen ke UI. Mbok ya bantu jaga kebersihannya aja gitu.
Udah baek UI gak ngusir-ngusirin wisatawan dadakan dengan membuat plang "Wisatawan dilarang masuk" (lucu ajah)
Emang sih di sepanjang sisi danau itu tidak berjajar tempat sampah. Tapi ya dipegang dulu lah, ntar dibuang di tempat sampah terdekat. Dekat pos satpam depan balairung ada tuh.
Buat pak pedagang bawa tempat sampah kecil ato apalah.

Jadi pengen tau, UI nganggarin buat bersih-bersih tamannya (gaji tukang sapu, nyediain perlengkapannya, dll) berapa ya ? Dari kas sendiri dong ya, alias gak dibantu pemkot.
Tiap kesana mesti geregetan. Kirim surat aja gitu ke UI ? Or usul ke Mapala UI buat meng-edukasi pelancong dadakan? Aduuh, tampaknya diriku ngga nyelsein masalah nih, malah ngedumel aja di blog.

Mungkiiiiiiin klo daku jadi rektor UI, tak suruh beli tiket orang-orang yang nongkrong di sekitar danau UI.
Dan tiketnya harus dibayar dengan menjaga keindahan dan kebersihan danau dan sekitarnya. Cukup sepadan kan?

Monday, December 22, 2008

Kisah di Balik Buku

Buku adalah jendela dunia. Pastilah peribahasa ini tercipta sebelum internet ada :)
Namun demikian, internet dengan segala kecanggihannya, menurut saya tidak (belum?) sepenuhnya bisa menggantikan buku.
Mencium aroma buku, membuka halamannya, menyentuh permukaannya, mendekapnya, ah, pokoknya buku terasa lebih personal dibanding internet buat saya.

Saya bukan mau membandingkan antara buku dan internet, bukan. Saya ingin cerita dan bernostalgia dengan dua buku yang ada di urutan depan kalau saya mengisi kolom buku favorit.

Kenapa ada di depan ? Karena dua buku ini adalah buku-buku awal yang memberikan kesan yang mendalam buat saya. Jadi urutan terdepan ini tidak mengartikan paling, tapi mengartikan senioritas :p

Buku pertama berjudul Hiburan Orang Mukmin terbitan Gema Insani Press. Buku ini saya baca kelas dua SMP. Saya mendapatkannya sebagai hadiah dari seorang teman setelah mengikuti pesantren kilat di Al Hikmah, Warujajar, Cianjur (makasih K Dadan, dimana dirimu kini?)

Pertama saya pikir buku ini berisi hiburan-hiburan apa saja yang boleh dan tidak untuk seorang muslim. Tapi ternyata saya salah.
Buku ini berisi kisah dan cerita dari para rosul, sahabat, dan salafus sholih. Cara penyampaiannya sungguh menarik, saya seperti berada di tempat dimana kisah tersebut di paparkan.
Saya menangis saat membaca kisah kepergian Rosululloh SAW, takjub dengan salafus sholih yang diamputasi kakinya saat melaksanakan sholat, merinding membaca kebesaran dan kerendah-hatian pasukan muslim, bengong bahwa salah satu kelalaian pasukan muslim yang membuat mereka sulit menembus benteng pertahanan Romawi adalah tidak bersiwak (menggosok gigi) !

Wah, pokoknya semua kisah-kisah di sana sudah bolak-balik saya baca dan juga saya kisahkan kembali.

Dan buku itu ternyata bukan hanya menjadi buku favorit saya saja, tapi juga para peminjam. Walhasil buku itu tidak pernah lama nganggur di rak, tapi berantai dari satu orang ke orang yang lain.
Saking sering dipinjam, sampai sampul dan jilidnya amburadul. Dan yang memperbaiki sampul dan jilid yang amburadul itu bukan saya, tapi teman kos saya (Lppits, where r u now?).
Dia yang membawa buku itu untuk dijilid lagi. Bisa ditebak dong, dia juga pecinta buku ini:)

Sayang buku itu entah dimana sekarang. Ada yang meminjam dan belum mengembalikan. Lupa pula saya siapa yang terakhir pinjam. Saya bisa beli lagi cetakan terbaru (mudah2n ada), tapi nilai historisnya itu lho.

Karena buku itu, saya jadi mencari lagi buku-buku lain untuk dibaca, terutama buku Islam.
Selesai membaca buku itu, saya membeli buku di toko buku dekat sekolah yang uangnya saya peroleh dari mengumpulkan uang jajan.

Saya tidak ingat judul bukunya, tapi intinya adalah buku kumpulan tanya jawab masalah keislaman yang ditulis oleh Syekh Yusuf Qordhowi. Sudah lupa sebagian besar isinya. Yang masih saya ingat adalah pertanyaan boleh tidaknya memberi nama anak dengan nama Fir'aun.

Buku yang kedua saya baca saat kelas 2 SMA (kok dua-duanya kelas 2 ya?). Ini buku pinjaman dari Eko, teman sekelas. Judulnya adalah Tafakur di Galaksi Luhur karangan Dedi Setiadi.
Buku ini pada dasarnya memandang astronomi dari kacamata Islam sehingga kita dapat melihat kebesaran Sang Pencipta.
Memaparkan bagaimana segala keindahan, keruwetan sistem, benda-benda angkasa, bahkan juga UFO. Sepertinya penulisnya percaya jika UFO itu ada.

Mungkin karena saya memang senang dengan hal-hal berbau angkasa luar, buku ini langsung menarik perhatian saya.
Selain itu, cara penyampain Pak Dedi menarik dan pilihan bahasa yang dipergunakan agak-agak puitis. Sudah kelihatan kan dari judul bukunya?

Kenapa buku ini berkesan?
Pertama karena dengan membaca buku ini saya merasakan betapa keciiiiiiiiiil diri ini dan betapa hebat Alloh. Dan dari buku ini saya yang senang mengamati langit jadi tahu apa yang ada di atas sana.
Mungkin ada yang bertanya, Emang gak pernah baca buku lain apa?

Begini, waktu itu tahun
1996, saya tinggal di kota Gorontalo, dan saat itu Gorontalo belum menjadi propinsi, masih bagian dari Sulawesi Utara.
Seingat saya agak sulit untuk mencari bacaan yang asyik. Waktu saya coba sambangi perpustakaan kotanya saja, saya tidak menemukan buku-buku yang bisa membuat saya betah berlama-lama dan ketagihan balik lagi. Kebanyakan buku-buku pelajaran. Padahal waktu saya di Cianjur saja, perpustakaan kota kecil itu sudah cukup menjadi surga untuk saya. Jadi waktu dipinjami buku ini senangnyaaaaaaa minta ampun.

Kedua, bahasanya tadi. Saya merasakan kalimat-kalimat yang indah di sepanjang halaman, tapi tidak membuat kening saya berkerut. Mungkin saat itu titik awal kesadaran dan ketertarikan saya pada kalimat-kalimat indah atau sastra kalau mau dibilang begitu (tapi ketinggian ah)

Nah, saking kesengsemnya saya dengan buku ini, saya ingin memilikinya. Dan setelah mengubek seluruh penjuru Gorontalo (hiperbola ), saya tidak menemukannya ! Sedihnya.
Tapi karena saya benar-benar ingin memilikinya, saya fotokopi buku itu.
Karena teman saya pun mendapatkanya dari saudaranya di Jawa.

Satu cerita lagi tentang buku ini. Saat saya kuliah di Bandung, beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi rumah Bapak Dedi si penulis buku. Senangnya. Tadinya saya ingin meminta tanda beliau dibubuhkan di buku fotokopian tadi, tapi saya khawatir ,
Apa nanti beliau tersinggung karena saya memfotokopi, bukannya membeli
Apa nanti saya tidak di sebut pembajak
Apa nanti beliau tidak marah
Akhirnya keinginan saya tidak pernah saya perjuangkan. Dan saya menyesal !
Saya yakin jika dijelaskan beliau tidak marah. Mudah-mudahan saya masih sempat silaturahim lagi dengan beliau.

* * *

Itulah dua buah buku yang selalu saya sebut di urutan pertama buku favorit saya. Tentu masih banyak buku-buku yang berkesan dan mempengaruhi pemikiran dan kehidupan saya.
Karena walau era internet sudah tak terelakkan, dan sudah bisa dibawa kemana-mana, buku tetap the green garden in our pocket. Setuju tidak ?

Sunday, December 21, 2008

Dua Buku Favorit

Buku adalah jendela dunia.
Pastilah peribahasa ini tercipta sebelum internet ada :)
Namun demikian, internet dengan segala kecanggihannya, menurut saya tidak (belum?) sepenuhnya bisa menggantikan buku.
Mencium aroma buku, membuka halamannya, menyentuh permukaannya, mendekapnya, ah, pokoknya buku terasa lebih personal dibanding internet buat saya.

Saya bukan mau membandingkan antara buku dan internet, bukan. Saya ingin cerita dan bernostalgia dengan dua buku yang ada di urutan depan kalau saya mengisi kolom buku favorit.

Kenapa ada di depan ? Karena dua buku ini adalah buku-buku awal yang memberikan kesan yang mendalam buat saya. Jadi urutan terdepan ini tidak mengartikan paling, tapi mengartikan senioritas :p

Buku pertama berjudul Hiburan Orang Mukmin terbitan Gema Insani Press. Buku ini saya baca kelas dua SMP. Saya mendapatkannya sebagai hadiah dari seorang teman setelah mengikuti pesantren kilat di Al Hikmah, Warujajar, Cianjur (makasih K Dadan, dimana dirimu kini?)

Pertama saya pikir buku ini berisi hiburan-hiburan apa saja yang boleh dan tidak untuk seorang muslim. Tapi ternyata saya salah.
Buku ini berisi kisah dan cerita dari para rosul, sahabat, dan salafus sholih. Cara penyampaiannya sungguh menarik, saya seperti berada di tempat dimana kisah tersebut di paparkan.
Saya menangis saat membaca kisah kepergian Rosululloh SAW, takjub dengan salafus sholih yang diamputasi kakinya saat melaksanakan sholat, merinding membaca kebesaran dan kerendah-hatian pasukan muslim, bengong bahwa salah satu kelalaian pasukan muslim yang membuat mereka sulit menembus benteng pertahanan Romawi adalah tidak bersiwak (menggosok gigi) !

Wah, pokoknya semua kisah-kisah di sana sudah bolak-balik saya baca dan juga saya kisahkan kembali.

Dan buku itu ternyata bukan hanya menjadi buku favorit saya saja, tapi juga para peminjam. Walhasil buku itu tidak pernah lama nganggur di rak, tapi berantai dari satu orang ke orang yang lain.
Saking sering dipinjam, sampai sampul dan jilidnya amburadul. Dan yang memperbaiki sampul dan jilid yang amburadul itu bukan saya, tapi teman kos saya (Lppits, where r u now?).
Dia yang membawa buku itu untuk dijilid lagi. Bisa ditebak dong, dia juga pecinta buku ini:)

Sayang buku itu entah dimana sekarang. Ada yang meminjam dan belum mengembalikan. Lupa pula saya siapa yang terakhir pinjam. Saya bisa beli lagi cetakan terbaru (mudah2n ada), tapi nilai historisnya itu lho.

Karena buku itu, saya jadi mencari lagi buku-buku lain untuk dibaca, terutama buku Islam.
Selesai membaca buku itu, saya membeli buku di toko buku dekat sekolah yang uangnya saya peroleh dari mengumpulkan uang jajan.

Saya tidak ingat judul bukunya, tapi intinya adalah buku kumpulan tanya jawab masalah keislaman yang ditulis oleh Syekh Yusuf Qordhowi. Sudah lupa sebagian besar isinya. Yang masih saya ingat adalah pertanyaan boleh tidaknya memberi nama anak dengan nama Fir'aun.

Buku yang kedua saya baca saat kelas 2 SMA (kok dua-duanya kelas 2 ya?). Ini buku pinjaman dari Eko, teman sekelas. Judulnya adalah Tafakur di Galaksi Luhur karangan Dedy Suardi.
Buku ini pada dasarnya memandang astronomi dari kacamata Islam sehingga kita dapat melihat kebesaran Sang Pencipta.
Memaparkan bagaimana segala keindahan, keruwetan sistem, benda-benda angkasa, bahkan juga UFO. Sepertinya penulisnya percaya jika UFO itu ada.

Mungkin karena saya memang senang dengan hal-hal berbau angkasa luar, buku ini langsung menarik perhatian saya.
Selain itu, cara penyampain Pak Dedy menarik dan pilihan bahasa yang dipergunakan agak-agak puitis. Sudah kelihatan kan dari judul bukunya?

Kenapa buku ini berkesan?
Pertama karena dengan membaca buku ini saya merasakan betapa keciiiiiiiiiil diri ini dan betapa hebat Alloh. Dan dari buku ini saya yang senang mengamati langit jadi tahu apa yang ada di atas sana.
Mungkin ada yang bertanya, Emang gak pernah baca buku lain apa?

Begini, waktu itu tahun
1996, saya tinggal di kota Gorontalo, dan saat itu Gorontalo belum menjadi propinsi, masih bagian dari Sulawesi Utara.
Seingat saya agak sulit untuk mencari bacaan yang asyik. Waktu saya coba sambangi perpustakaan kotanya saja, saya tidak menemukan buku-buku yang bisa membuat saya betah berlama-lama dan ketagihan balik lagi. Kebanyakan buku-buku pelajaran. Padahal waktu saya di Cianjur saja, perpustakaan kota kecil itu sudah cukup menjadi surga untuk saya. Jadi waktu dipinjami buku ini senangnyaaaaaaa minta ampun.

Kedua, bahasanya tadi. Saya merasakan kalimat-kalimat yang indah di sepanjang halaman, tapi tidak membuat kening saya berkerut. Mungkin saat itu titik awal kesadaran dan ketertarikan saya pada kalimat-kalimat indah atau sastra kalau mau dibilang begitu (tapi ketinggian ah)

Nah, saking kesengsemnya saya dengan buku ini, saya ingin memilikinya. Dan setelah mengubek seluruh penjuru Gorontalo (hiperbola ), saya tidak menemukannya ! Sedihnya.
Tapi karena saya benar-benar ingin memilikinya, saya fotokopi buku itu.
Karena teman saya pun mendapatkanya dari saudaranya di Jawa.

Satu cerita lagi tentang buku ini. Saat saya kuliah di Bandung, beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi rumah Bapak Dedy si penulis buku. Senangnya. Tadinya saya ingin meminta tanda beliau dibubuhkan di buku fotokopian tadi, tapi saya khawatir ,
Apa nanti beliau tersinggung karena saya memfotokopi, bukannya membeli
Apa nanti saya tidak di sebut pembajak
Apa nanti beliau tidak marah
Akhirnya keinginan saya tidak pernah saya perjuangkan. Dan saya menyesal !
Saya yakin jika dijelaskan beliau tidak marah. Mudah-mudahan saya masih sempat silaturahim lagi dengan beliau.

* * *

Itulah dua buah buku yang selalu saya sebut di urutan pertama buku favorit saya. Tentu masih banyak buku-buku yang berkesan dan mempengaruhi pemikiran dan kehidupan saya.
Karena walau era internet sudah tak terelakkan, dan sudah bisa dibawa kemana-mana, buku tetap the green garden in our pocket.
Jadi, buku apa yang ada di urutan awal buku favorit anda?